Warta 13 September 2020
Tahun XI - No.31

“Tujuh puluh kali tujuh kali”

[Download versi lengkap warta - PDF]

Tujuh puluh kali tujuh kaliInjil hari ini mengajak kita untuk mengampuni. Kita perlu belajar mengampuni karena Allah yang penuh kasih telah terlebih dahulu mengampuni kita, terutama melalui sakramen-sakramen.

Allah mengampuni kita, pertama-tama, melalui sakramen Baptis. Ketika kita menerima sakramen Baptis dengan iman dan penyesalan akan dosa-dosa kita, Allah menghapus dosa asal dan pribadi kita (baik berat maupun ringan). Lebih dari itu, Allah juga menghapus segala hukuman (duniawi dan kekal) yang dijatuhkan kepada kita ketika kita berdosa. Dalam sakramen Baptis, apa yang dikatakan sang raja dalam perumpamaan Injil hari ini menjadi kenyataan: “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya” (27). Betapa indahnya sakramen Baptis yang telah kita terima! Hendaklah kita senantiasa bersyukur dan mengingat Baptisan kita (misalnya, dengan menggunakan air suci).

Selain melalui sakramen Baptis, Allah juga mengampuni kita melalui sakramen Tobat setiap kali kita jatuh dalam dosa setelah kita menerima sakramen Baptis. Sakramen Tobat adalah sebuah sakramen yang mengagumkan: segala macam dosa, betapa beratnya pun, diampuni oleh Allah hanya dengan penyesalan, pengakuan, dan—setelah imam memberikan absolusi—penitensi kita. Apakah kita bersedia menerima kerahiman Allah melalui sakramen ini secara rutin?

Tujuh puluh kali tujuh kaliYesus mengundang kita untuk mengampuni sesama kita seperti Allah yang senantiasa mengampuni kita. Mengampuni bukanlah sekadar melupakan. Mengampuni adalah menghadapi kesalahan orang lain dan membakar kesalahan tersebut dalam diri kita sehingga kita dan orang yang kita ampuni diperbarui oleh kasih Allah. Sungguh kasih adalah dasar pengampunan: ia yang mengasihi sesamanya akan mengampuni sesamanya.

Doa: Allah, setelah mengalami kasih dan pengampunan-Mu dalam sakramen-sakramen Gereja, bantulah kami agar kami senantiasa mampu “mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.**

(sumber: https://www.katolisitas.org/tujuh-puluh-kali-tujuh-kali/)