Warta 27 Januari 2019
Tahun X - No.04

Mendengarkan Sabda Itu Penting

Mendengarkan Sabda Itu Penting

A. de Mello, SJ dalam Bukunya “Burung Berkicau” menceritakan dialog seorang terpelajar dengan Budha. Ia berkata kepada Budha, “Hal-hal yang Tuan ajarkan tidak terdapat dalam Kitab Suci” Budha menjawab, “Kalau begitu masukanlah di dalam Kitab Suci”. Orang itu malu sejenak lalu berkata lagi: “Bolehkah saya memberanikan diri mengemukakan bahwa dari hal-hal yang Tuan ajarkan ada yang jelas-jelas bertentangan dengan Kitab Suci?” Budha menjawabnya, “Kalau begitu ubahlah Kitab Suci.”

Konon ada usul yang diajukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa agar semua Kitab Suci dari semua agama di seluruh dunia ditinjau kembali. Semua ayat yang mengarah kepada intoleransi, kekejaman dan fanatisme harus dihapus. Segala sesuatu yang mengurangi martabat manusia dan kesejahteraannya harus dihilangkan. Ketika diketahui, bahwa usul itu diajukan oleh Yesus Kristus sendiri, para wartawan bergegas menyerbu tempat kediamanNya untuk minta penjelasanNya lebih lanjut. PenjelasanNya sederhana dan singkat: “Kitab Suci, seperti hari Sabat, adalah untuk manusia. Bukan manusia untuk Kitab Suci”

Bacaan-bacaan Kitab Suci Hari Minggu ini mengarahkan kita untuk memahami makna mendengar Sabda. Kita tidak mengubah Kitab Suci tetapi mendengar Tuhan di dalam Kitab Suci. Di dalam bacaan Injil, Lukas memulai dengan sebuah katekese historis tentang Yesus dengan tujuan supaya kita percaya kepada Yesus. dan sesudah Yesus dicobai iblis di padang gurun, dalam kuasa Roh, Yesus kembali ke Galilea. Ia mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Ia laksana cahaya besar bagi bangsa yang dilingkupi kegelapan. Ia juga kembali ke Nazareth tempat Ia dibesarkan.

Pada hari Sabat Ia mengikuti peribadatan di dalam Sinagoga. pada saat itu Ia membaca kutipan dari Kitab Nabi Yesaya: “Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab itu Ia mengurapi Aku untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4: 18-19). Mendengar ini, semua mata tertuju kepada Yesus, lebih lagi ketika Ia mengatakan, “Pada hari ini genaplah nas yang tadi kamu dengar” (Luk 4: 21).

Mendengarkan Sabda Itu PentingYesus menunjukkan diriNya dalam kotbah perdanaNya di kampung halaman dengan mengungkapkan program hidupNya sebagai sang Pembebas atau Penebus. Sesuai dengan programNya, Yesus membebaskan orang dari sakit penyakitnya, dari kurang paham atau ketidaktahuan hidup beragama, dari ketakutan, dosa bahkan kematian. Yesus tahu bahwa anda dan saya butuh pembebasan dan “Ia telah datang untuk membebaskan kita dari musuh-musuh kita dengan kuasa Roh Kudus dari Allah”

Pertanyaan bagi kita semua adalah, Apakah kita membiarkan Yesus untuk datang dan membebaskan kita dari musuh-musuh atau kita tetap tinggal bersama musuh-musuh kita? Kala kita terbuka pada Yesus, kita akan mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah. Kita belajar dari Maria Magdalena, Paulus, Agustinus dan Fransiskus dari Asisi, Charles de Foucould. Mereka ini “terlambat mencintai Tuhan” tetapi Tuhan tidak terlambat mencintai mereka. Apakah anda juga merasakan pembebasan dan penebusan berlimpah dari Tuhan?

Sabda Tuhan juga mengingatkan kita untuk mendengar Sabda dan melakukannya. Sabda Tuhan yang kita dengar memiliki pengaruh tertentu. Ketika mendengar Sabda kita dapat mengalami Allah di dalam hidup. Kita menyelami dan berusaha mengenal Allah melalui Kitab Suci. Kita mendengar Sabda Tuhan dapat mempersatukan setiap pribadi sebagai orang yang percaya. Orang boleh berbeda tetapi Sabda Tuhan tetap satu dan sama. Dari situ setiap pribadi yang berbeda juga dapat menjadi satu persekutuan atau satu gereja. Dengan mendengar sabda Tuhan, kita dapat menjadi Rasul atau Pewarta Sabda. Kita ingat Santo Paulus berkata, “Iman timbul dari pendengaran oleh Firman Kristus” (Rm 10:17). Apakah anda dan saya dapat menjadi satu gereja, satu iman kepada Kristus?

Sumber: Renungan P. John Laba SDB dari pejesdb.com